.Feast.Feast

Di era digital yang serba cepat ini, kita sering menyaksikan fenomena aneh di mana kemarahan publik seolah memiliki jadwal tayangnya sendiri. Setiap pagi, jutaan ibu jari berselancar di layar kaca hanya untuk mencari siapa yang harus dihujat atau didukung hari ini demi validasi sosial.

Perilaku tersebut menciptakan sebuah ekosistem pasar baru yang memperdagangkan isu sosial layaknya barang kelontong. Kita tidak lagi benar-benar peduli pada substansi masalah, melainkan hanya takut tertinggal dari keretan “kepedulian” yang sedang tren.

Kegelisahan kolektif inilah yang tertangkap radar .Feast dan digubah menjadi sebuah manifesto sonik berjudul “Politrik”. Lagu yang termuat dalam album Membangun & Menghancurkan ini dirilis pada tahun 2024 dengan membawa pesan yang menampar kesadaran kita.

Grup musik rock asal Jakarta ini tidak sedang bermanis-manis dengan lirik puitis yang mendayu. Mereka justru datang membawa cermin besar ke hadapan wajah kita semua, termasuk wajah mereka sendiri.

Komodifikasi Tragedi

Lagu ini dibuka dengan serangan langsung pada kebiasaan para pembuat opini dan pegiat media sosial. Simak saja penggalan liriknya yang berbunyi:

“Hari ini kau belanja topik,

cari-cari debat paling berisik.”

Frasa “belanja topik” adalah pilihan kata jenius untuk menggambarkan betapa pragmatisnya pemilihan isu yang diangkat ke permukaan. Masalah kemanusiaan tidak lagi dipilih berdasarkan urgensi, tetapi berdasarkan potensi viralitas yang bisa diraup.

Para pelaku industri konten seakan berjalan jinjit di tepi jurang etika demi mendapatkan sorotan. Mereka membungkus kritik yang sebenarnya dangkal dengan kemasan visual dan narasi yang cantik.

Fenomena ini menjelaskan mengapa banyak isu vital yang tenggelam hanya karena dianggap kurang seksi untuk algoritma. Sementara itu, debat kusir yang bising justru mendapat panggung utama karena mampu memancing emosi audiens.

Di sinilah letak kepiawaian .Feast dalam membedah “Berita jadi uang makan, derita jadi uang jajan.” Penderitaan orang lain telah bertransformasi menjadi komoditas ekonomi yang menguntungkan bagi segelintir pihak.

Tragedi yang menimpa seseorang di belahan bumi lain bisa dikonversi menjadi adsense atau kesepakatan endorsement. Rasa empati yang kita berikan, sadar atau tidak, telah dimonitisasi oleh mesin kapitalisme digital.

Trik Marketing di Balik Aktivisme

Bagian chorus lagu ini menegaskan bahwa segala keriuhan tersebut sering kali hanyalah strategi dagang belaka.

“Trik trik trik positioning, marketing, branding,”

Isu sosial kini diperlakukan sama seperti meluncurkan produk minuman kemasan atau sepatu lari. Ada strategi penempatan posisi (positioning) untuk menentukan di mana seorang influencer atau musisi berdiri dalam sebuah isu.

Semua langkah diambil dengan perhitungan matang agar citra diri (branding) tetap terjaga dan terlihat progresif. Kritik yang dilontarkan sering disikat miring, sebuah metafora untuk mengambil sudut pandang yang aman namun tetap terlihat kritis.

“Angkat topik tabu,

Tarik pendengar lugu,”

Lalu, pada bait ini, kita diajak untuk melihat bahwa kemarahan yang ditampilkan di layar sering kali hanyalah sebuah peran sandiwara. Di balik layar, mereka mungkin tertawa melihat angka engagement yang melonjak naik berkat “topik tabu” yang baru saja diunggah.

Pendengar yang lugu menjadi target empuk dari manipulasi emosi yang terstruktur ini. Mereka digiring untuk merasa menjadi bagian dari pergerakan, padahal sedang menjadi konsumen pasif.

Pola ini berulang terus-menerus hingga membentuk siklus yang melelahkan namun adiktif. Besok pagi, siklus “belanja topik” akan dimulai lagi dengan menu yang berbeda namun dengan tujuan yang sama: keuntungan.

Sebuah Pengakuan Dosa

Namun, kekuatan terbesar dari “Politrik” bukanlah pada tudingannya kepada orang lain. Lagu ini menjadi sangat bertenaga karena Baskara Putra dan kawan-kawan berani mengakui keterlibatan mereka dalam pusaran dosa yang sama.

“Aku pernah di situ kawan,

muak dianggap hanya jualan,”

Ini adalah sebuah pengakuan jujur yang jarang kita dengar dari musisi sekelas mereka. .Feast tidak menempatkan diri sebagai nabi yang suci dari dosa industri.

Muak dianggap hanya jualan,

Menjalankannya jadi beban,

Sulit imbangi perkataan,

Disini, mereka menyadari bahwa sebagai band yang sering menyuarakan isu sosial-politik, mereka pun rentan terjebak dalam stigma “jualan penderitaan”. Ada beban moral yang berat ketika menyanyikan lagu protes di atas panggung yang disponsori korporasi besar.

Pengakuan “Sulit imbangi perkataan” menunjukkan betapa beratnya menjaga integritas di tengah tuntutan industri hiburan. Menjalankan idealisme sering kali menjadi beban ketika berbenturan dengan realitas tagihan bulanan yang harus dibayar.

Bagian ini mengubah nada lagu dari sekadar kritik sinis menjadi sebuah refleksi kontemplatif. Mereka seolah berkata bahwa sistem ini begitu kuat hingga menyeret siapa saja, bahkan mereka yang berniat baik sekalipun.

Kejujuran ini membuat pendengar tidak merasa digurui, melainkan diajak untuk berintrospeksi bersama. Kita semua, dalam kadar tertentu, pernah menjadi bagian dari roda gigi mesin raksasa ini.

Ujungnya Jualan Baju

Puncak dari satir yang dibangun dalam lagu ini terletak pada kalimat sederhana namun menohok:

“Angkat topik tabu,

Tarik pendengar lugu,

Lalu jualan baju,”

Frasa “Lalu jualan baju” ini merangkum betapa kerdilnya akhir dari banyak gerakan sosial yang kita lihat hari ini.

Betapa sering kita melihat tagar perjuangan atau simbol perlawanan berakhir menjadi desain kaos limited edition. Semangat zaman (zeitgeist) ditangkap bukan untuk perubahan kebijakan, melainkan untuk inspirasi koleksi busana musim depan.

“Formula ampuh berjualan,

Seakan tangkap semangat zaman,

Pakai busana yang terdepan,”

“Pakai busana yang terdepan” menjadi sindiran bagi mereka yang merasa paling revolusioner hanya karena mengenakan atribut perlawanan. Padahal, esensi perjuangan sering kali hilang, tertutup oleh label harga yang menggantung di kerah baju.

Industri musik dan fashion memang berkelindan erat dalam memopulerkan simbol-simbol ini. Namun, ketika simbol tersebut diproduksi massal, maknanya sering kali tergerus menjadi sekadar estetika kosong.

.Feast dengan cerdik menyoroti bagaimana kontrak label rekaman dan incaran liputan koran menjadi motivasi terselubung. Kejar setoran menjadi realitas pahit yang harus ditelan di balik jargon-jargon heroisme.

Refleksi di Tengah Kebisingan

Melalui Politrik, .Feast berhasil menangkap potret buram wajah masyarakat kita pasca-2020. Lagu ini bukan sekadar hiburan audio, melainkan sebuah dokumen sosial yang merekam kegilaan zaman.

Aransemen musik yang agresif dan lirik yang repetitif seakan mewakili kebisingan informasi yang membombardir kita setiap hari. Kita dipaksa untuk berhenti sejenak dan bertanya:

apakah kemarahan kita hari ini asli? Ataukah kita hanya sedang menari di atas gendang yang ditabuh oleh para pedagang isu?

Pertanyaan ini mungkin tidak nyaman, namun sangat perlu untuk diajukan.

Sebagai penikmat karya, kita diingatkan untuk lebih kritis dalam menelan narasi yang disajikan oleh figur publik atau musisi idola. Jangan sampai kepolosan kita dimanfaatkan hanya untuk mempercantik angka statistik mereka.

Baca juga: Jojo Rabbit: Satir Ceria tentang Kebencian yang Ditanamkan Sejak Dini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *